March 06, 2011 | 7:32:12 AM

Tulamben, here I come again!

Wuaaahhh.. Akhirnyaaaa, setelah 5 tahun lalu nyebur di Tulamben, hari ini kembali lagi ke sini untuk diving!

Today, I’m going with my new buddies: Diana Suciawati & Eko Octavianus.
Actually, gue ngga berniat diving when I touch down in Bali. Ada sih niat, tapi since gue pergi bareng” tmen non-diver and then have to attend a work-related workshop, gue mengurungkan niat tersebut. Di hari” terakhir mau pulang (Kamis), gue baru dijejelin dan digoda imannya sama si Diana ini u/ extend dan diving di Bali. Keinginan menutupi akal sehat dah langsung, hahaha. Harusnya gue pulang Jumat, tapi akhirnya gue extend sampe Senin karena Sabtu ada perayaan Nyepi (ga mungkin diving), jadi kita dive hari Minggu aja rencananya, trus Senin gue pulang.

Oh ya, awalnya juga karena satu temen lagi, si Arya, yang ngajak ke Tulamben dan extend — which turned out to be cancelled karena hari Sabtunya dia ada apaaa gitu, jadi dia pulang Jumat.

Perjalanan kami tempuh dari Sanur sekitar jam 7 pagi (waktu Indonesia tengah), melalui bypass — which is luruuuuuusssss aja ke arah Utara — dan kami tiba di daerah Tulamben jam 9:59:51 AM.

Di tengah perjalanan, kami sempat make a stop untuk beli sarapan (Diana & Eko sih, haha). Mereka beli sate lilit. Dulu pas dive trip ke Tulamben, instruktur gue (Ko Kaufik) sempet ajak kita makan sate lilit, tapi ukurannya jauhhh lebih besar dari yang ini. Rasanya: ikan spicy” gitu deh.
Tanya punya tanya, sate lilit ini dibuat dari daging ikan cakalang. Tusuknya (biting kalo kata orang Sunda mah) ternyata dibuat dari pelepah pisang. Adonannya dibuat di satu wadah, lalu ‘ditempelin’ deh ke pelepahnya, baru dibakar di atas arang.

So now, here I am, di pantai (?) berbatu ala Tulamben. Sebenernya ini pantai ketutup batu-batu vulkanik akibat erupsi gunung beberapa tahun yang lalu. Jadi kalau mau dive di sini, better bawa coral boots — selain biar enak jalan di batu-batu, tapi juga untuk entry point, karena kita masuk dengan berjalan sedikit dari bibir pantai ke arah laut, baru bisa pake fins, berenang lagi sedikit lebih ke tengah, baru deh bisa descend/’turun’.

Okay! At 10:35:20 AM we were doing our first dive, we were circling around the USS Liberty Wreck. Pertama turun, langsung dikerubutin segambreng ikan, sempet parno jg gue, scara ntu ikan lebih gede dari muka gue (bandingin sama kepala, sih, Pris?) dan giginya nongol”, hehe.
Turun turun turun, smakin dalem, smakin keliatan wrecknya. Guede banget!! Panjangnya aja skitar 100m, wuiihhhh….
Kita ketemu banyak diver deep down, haha, terus ngeliat big barracuda (sayang jaraknya jauh, jadi kurang bagus hasil fotonya), schooling jackfish, clownfish, bumphead wrasse sebesar ±1 meter (ga berani deketin, abis kaya yang lebih gede dari gue!), dan terakhir nemu stingray.

Dengan bottom time kurang lebih 1jam, akhirnya kami surfacing dan muncul di permukaan jam 11:42:18 AM.

Dive kedua dimulai pukul 13:17:26 PM, setelah kurang lebih 1 jam kami surface interval (baca: makan-makan dan leyeh-leyeh), kami descend di entry point yang sama, tapi kali ini kami mengambil arah ke kiri, masuk ke dalam lambung kapal. Suasananya asik banget, keren kaya ekspedisi. Di dekat lambung kapal, kami sempat melihat dua bumphead wrasse yang buesaaarrr sedang makan. Kami masuk ke dalam lambung kapal, lalu menemukan scorpion fish (dua ekor loooohhhhh *sombong* *mintaditendang*), yellow pipefish (maksudnya pipefish warna kuning), sting ray, schooling jackfish, schooling diver *haha*, dan sejumlah coral berwarna-warni.
Ga lupa, narsis-narsisan dong di sekitar wreck, hehe.
Jepret sana, jepret sini, ga kerasa udah waktunya untuk kembali ke permukaan. Tepat pukul 15:10:42 PM kami udah kecipak-kecipuk lagi di atas perairan Tulamben *halah!*.

Dan dengan mendaratnya (lu kate pesawat, Pris?) kami di pantai berbatu Tulamben, mendekat ke dive centre, berarti selesailah sudah experience diving kami di Tulamben.

Within this post I want to humbly thank my friends Diana & Eko for tempting me to extend and dive and share the moments together, Ka Jensi who recommend Puri Madha to me, all of Puri Madha crew — especially Bli Wayan who has guided our two dives and Bli Komang who has been our contact person, and God Himself for creating such beautiful scene and creatures and giving me chance to be alive and dive. Yay!